Kerajinan genta atau lonceng angin (wind chimes) adalah sebuah produk kerajinan yang biasanya terbuat dari bambu, kerang dan logam ringan. Produk kerajinan ini dipergunakan sebagai hiasan rumah/taman, dan bila terkena angin akan menimbulkan nada yang tak beraturan serta terkesan berisik.

Hal itu sangat berbeda dengan lonceng angin hasil tangan kreatif warga Sawangan Depok. Kerajinan yang dinamakan genta nada tersebut bila terkena angin dapat menghasilkan nada-nada etnik Jawa, Sunda, Bali, Batak, Mandarin, India, dan Jepang.

Saat ditemui di UMKM Center ITC Depok, Rabu (9/2), Abdul Madjid Gangga, sang kreator dan pembuat genta nada mengatakan, produknya terbuat dari bahan aluminium dengan ketebalan 2 mm, dengan panjang dan diameter sesuai dengan pesanan.“ Pemilihan bahan aluminium dikarenakan bahan tersebut mudah untuk diwarnai serta memiliki gaung/sustain yang sempurna” ungkap Bapak berusia 55 tahun ini.

Madjid mengakui, sekarang produknya banyak dipajang dan dimiliki oleh masyarakat, mulai dari masyarakat biasa sampai istana Negara, bahkan sudah masuk pasar di Amerika Serikat.

“ Ada seseorang dari Virginia Amerika membeli produk saya yang beretnik nada jawa, kemudian orang tersebut melakukan penelitan tentang tune nada yang dihasilkan dari genta nada. Alhasil produk saya tidak perlu melakukan setem/penyetelan nada kembali. Dan genta nada banyak diminati di sana” ujarnya bangga.

Sejak tahun 1992 Madjid berprofesi sebagai tukang setem piano. Dari pengalaman itulah, ditahun 2002, dia mulai bereksperimen dengan membuat genta nada dari pipa-pipa air. Setelah melakukan uji coba berulang kali, maka di tahun 2007, mulailah Abdul Madjid membuat genta nada dengan bahan aluminium yang menghasilkan bunyi nada etnik tradisional dengan pitch frekuensi 440 Hertz.

Tentang harga, Madjid menerangkan produknya bermacam-macam, yang terkecil dengan 5 batang bisa berharga 300 ribu rupiah, sedangkan yang besar dengan 48 batang berharga 10 juta rupiah. “ Banyaknya batang pada Genta Nada, semakin banyak nada yang dihasilkan” terangnya.

Lebih lanjut, genta karyanya bervariasi, panjang pendek pipa menentukan tinggi rendahnya nada, sedangkan lebar diameter pipa berpengaruh pada oktaf yang ingin dicapai.

Dalam penyelarasan nada, Madjid menerangkan, penyetemen genta nada produknya memang agak sedikit rumit. “ Terkadang saya harus membutuhkan waktu 3-5 hari untuk menyeleraskan genta nadanya” ungkapnya.

Meski tanpa seperangkat alat musik, namun produk genta nada karya Abdul Madjid ini bisa menjadi salah satu media untuk mengenalkan kekayaan melodi etnik bangsa Indonesia. Jika anda penasaran dan ingin tahu produk genta nada, anda bisa datangi UMKM Center ITC Depok Lantai dasar, atau di Sentra Genta Nada, Jl. Cinangka Gg. Madu RT 05/04 No. 8, Sawangan Depok.