Berdasarkan pemetaan wilayah dan kondisi penduduknya, kecamatan Tapos yang merupakan pemekaran dari kecamatan Cimanggis, banyak memiliki lahan tidur. Selain itu kondisi warga Tapos banyak yang bekerja sebagai petani penggarap. Secara ekonomi, petani penggarap tersebut memiliki ketergantungan dengan lahan orang lain. Hal itu disampaikan oleh Camat Tapos Taufan Abdul Fatah di sela-sela acara minggon sekaligus penebaran benih belut di Kelurahan Cimpaeun Kecamatan Tapos, Selasa (8/2).

Berangkat dari hal tersebut, Taufan menyatakan, ingin memotivasi warga Tapos agar bisa mandiri dengan melakukan budidaya belut. Menurutnya, banyak sekali orang yang tidak tertarik pada budidaya ini. Dikarenakan susah atau repot membuat medianya atau mungkin belum tampak besar dari sisi pendapatan ekonomi. “ Namun, setelah dipelajari dan dikaji ternyata, budidaya belut mudah, murah dan berpotensi menguntungkan di masa mendatang” ujarnya.

Untuk mewujudkan rencana budidaya belut, Taufan bersama 50 warganya melakukan studi banding ke petani belut di daerah Jonggol, Kabupaten Bogor. Alhasil, sekarang sudah terdapat 20 petani belut di Kecamatan Tapos. Bahkan, ada seseorang warga Cimpaeun bernama H. Asmat yang merelakan tanahnya untuk dijadikan proyek percontohan budidaya belut. “ Budidaya belut untuk masyarakat ini, murni swadaya, tanpa menggunakan dana APBD” ungkapnya.

Taufan menjelaskan, media/bokasi dari budidaya belut semua sudah tersedia di Tapos. Dalam membuat media tanam belut diperlukan lumpur tanah, kompos, pupuk kandang (kotoran sapi/kambing) dan jerami. “Di Tapos terdapat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang bisa diambil kotoran sapi atau kambingnya. Jadi warga tidak perlu repot lagi untuk membuat media untuk belut ini, semua sudah ada di sini” jelasnya.

Lebih lanjut, para petani belut akan dibagi menjadi kelompok-kelompok agar lebih mudah dalam koordinasi dan pendampingan. Pihak kecamatan Tapos akan memfasilitasi dengan Dinas Pertanian dan Perikanan serta Dinas Koperasi UMKM dan Pasar agar memberikan pembinaan, pelatihan serta bantuan kepada para petani belut itu. “Kami juga akan melibatkan PKK dalam budidaya ini, karena nantinya belut tidak hanya di goreng, namun bisa dibuat makanan olahan seperti peyek dan abon”.

Harapan Taufan, agar langkah terobosan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Tapos. Motivasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan ekonomi keluarga dan kemandirian warga.

Sementara itu, H. Oman, salah satu petani belut mengatakan, saat melakukan studi banding ke Jonggol, ia langsung tertarik dalam budidaya belut. Menurutnya, yang utama dalam usaha adalah kemauan yang keras dan kesabaran. “Dengan modal 500 ribu sampai 1 juta rupiah, kita sudah bisa membuat budidaya belut secara sederhana” ujarnya.