Depok 04/05 bertempat di sekitar masjid Al-Muhajirin Jalan Nusantara dalam ajang MTQ XXXI tingkat Provinsi Jawa Barat diadakan lomba Musabaqoh Menulis Kandungan Al-quran (M2KQ). Lomba yang diikuti oleh 34 peserta terdiri dari 18 laki-laki dan 16 perempuan ini berasal dari kafilah tiap-tiap Kabupaten  dari  seluruh Provinsi Jawa Barat.

Menurut Drs. H. Jejen Zainal Abidin, sekretaris majelis Hakim M2KQ setiap kabupaten maksimal hanya diperbolehkan mengirim satu peserta laki-laki dan satu orang peserta perempuan.  Para peserta yang mengikuti ajang ini dinilai berdasarkan penulisan, bobot materi dan penguasaan materi. Lebih lanjut Jejen Zainal menambahkan dalam penilaian memiliki batas maksimal dan minimal jumlah halaman  yang harus diserahkan sebagai penilaian ke Dewan Hakim. Yaitu jumlah maksimal halaman 15 lembar dan minimal 10 lembar. Jika lebih dari 15 halaman dan kurang dari 10 halaman akan langsung  di diskualifikasi.

Yang menarik dalam perlombaan M2KQ, setiap peserta diharuskan membawa dan menggunakan mesin tik portable sebagai alat bantu tulis.  Peserta juga diperbolehkan melakukan diskusi dengan pendamping, dan membawa Al Qur an, Hadist dan buku referensi.

Sayangnya alat modern tidak diperkenankan di dalam perlombaan ini. “Hal ini untuk mencegah kecurangan peserta, “ kata Jejen Zainal. Alat alat yang tidak diperbolehkan dibawa oleh peserta diantaranya adalah Hand Phone, Modem, Laptop, kabel data, makalah  dan lain lain.
Perlombaan M2KQ merupakan lomba yang menarik di dalam MTQ. Peserta bebas menulis sesuai dengan tema yang ditentukan panitia dan didasarkan kandungan Al Qur an,  Hadist serta menggunakan referensi buku-buku Islami yang berkaitan dengan tema ditentukan dewan hakim.

Ajang MTQ ke XXXI ini, perlombaan M2KQ mengambil dua tema besar yaitu Perspektif Al-Quran tentang integrasi Sains dan Agama dan Jihad melawan Kemiskinan dan kebodohan.  Menurut Irwan, khafilah dari Kabupaten Bogor yang juga telah mengikuti MTQ Tingkat propinsi lebih dari 3 kali mengatakan sempat kaget dengan tema yang diberikan oleh panitia. Hal ini juga menuai protes dari peserta lain. Irwan mengaku, sedikit kecewa karena telah menyiapkan tema tentang kemiskinan tetapi panitia lebih menitik beratkan tentang sains. Perubahan tema ini membuat pendamping Irwan, Ustadz Nur Ustadi harus kembali ke pondokan  pemukiman untuk mengambil buku referensi yang berkaitan dengan tema tersebut.