Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok bulan Desember tahun lalu telah mengadakan survei dan kajian potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Bojongsari, Sawangan dan Limo. Pemetaan potensi tersebut diperlukan dinas terkait agar memiliki data dan informasi tentang potensi UMKM sebagai dasar perumusan program pembinaan untuk mewujudkan UMKM yang mandiri dan berdaya di Kota Depok. Demikian disampaikan Yelis Rosdiana Kabid UMKM Dinas Koperasi UMKM dan Pasar Kota Depok belum lama ini.

“Untuk 8 kecamatan lagi, kami akan melakukan pemetaan potensi UMKM di bulan April mendatang” ujar Yelis. Menurutnya, pemetaan potensi UMKM didasarkan pada karakteristik usaha yang terdiri dari skala usaha, jenis usaha, lamanya usaha serta status usaha. Selain itu, juga berdasar pada aspek manajerial, yang meliputi SDM, keuangan, produksi, pemasaran dan penggunaan teknologi informasi.

Dari hasil survei pemetaan tersebut ada 789 UMKM yang terdiri dari 501 UMKM di Kecamatan Bojongsari, 256 UMKM di Sawangan dan 32 UMKM di Limo. Skala usaha dari ketiga kecamatan didominasi oleh skala mikro (72,62%), skala kecil (27%) dan menengah (0,38%). Sedangkan jenis usahanya bervariasi yang didominasi usaha perdagangan (50,77%), jasa (21,17%), pertanian (4,06%), peternakan (2,15%), industry (0,89%) dan manufaktur (0,76%).

Yelis menjelaskan, dari jumlah tersebut diperoleh UMKM potensial sebanyak 170 UMKM yang terdiri dari 112 di Bojongsari, 38 di Sawangan dan 1 di Limo. Jenis Usaha dari UMKM potensial tersebut, sambungnya, terdiri dari usaha pertanian 96 UMKM, perikanan 62 UMKM, peternakan 7 UMKM dan industri  5 UMKM.

Lebih lanjut, hasil survei pemetaan tersebut juga menunjukkan bahwa dari aspek karakteristik usaha secara umum para UMKM masih terbatas pada pemenuhan target usaha guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga masih terkesan konvensional atau belum profesional. UMKM yang ada masih banyak kekurangan dan kelemahan, yakni dari segi keuangan, kurangnya jaringan pemasaran, lemahnya SDM khususnya tentang kewirausahaan, inovasi serta kreatifitas serta pemanfaatan teknologi informasi.

Untuk itu, kata Yelis, dengan mengacu pada hasil kajian pemetaan potensi UMKM, pihaknya akan berupaya untuk mendorong, membina para UMKM agar bisa mandiri dan berdaya, serta bisa menghasilkan potensi unggulan lain di Kota Depok.

Secara terpisah, Santosa Ketua Asosiasi UMKM Depok menyatakan, dengan adanya kajian pemetaan potensi UMKM tersebut, membantu kami untuk segera merangkul pelaku usaha itu agar bisa bergabung dengan asosiasi. Perlu diketahui, sejak vakum mulai tahun 2007, pada bulan Desember tahun lalu Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Depok sudah aktif kembali.

Asosiasi tersebut, lanjut Santoso, merupakan wadah para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di Kota Depok. Saat ini jumlah anggotanya berjumlah 232. Santoso pun berharap agar pemetaan potensi UMKM di seluruh kecamatan bisa segera rampung, dengan begitu pihaknya akan bersama-sama dinas terkait untuk bahu membahu untuk mendorong UMKM agar bisa mandiri dan berdaya.