Puskesmas Sukmajaya merupakan puskesmas yang menjadi puskesmas rawat inap teropatic feeding centre di Kota Depok. Teropatic feeding centre (TFC) merupakan sebuah tempat untuk terapi bagi balita gizi buruk. Menurut Bari, petugas gizi Puskesmas Sukmajaya ditemui kemarin (16/2) mengatakan pasien tfc biasanya merupakan rujukan dari puskesmas, RSUD, posyandu. Kemudian pihak puskesmas akan melakukan validasi dengan datang langsung ke rumah pasien. Jika ternyata benar teridentifikasi gizi buruk, maka balita dan ibu diajak ke puskesmas untuk pengechekkan lebih lanjut.

Sedangkan kreteria gizi buruk, bari menambahkan status gizi akan dapat diketahui dengan beberapa cara. Salah satunya dengan mengukur Berat Badan dibagi Umur. Jika < -3 SD maka termasuk ke dalam gizi buruk, -3 s/d -2 SD termasuk ke dalam gizi kurang, -2 SD s/d +2 SD termasuk gizi baik, > +2 SD termasuk ke gizi lebih. Jika setelah diobservasi dan termasuk ke gizi buruk maka disarankan dirawat di tfc.

Dalam perawatan TFC, hari pertama balita dan ibu akan dibawa ke RSUD Depok untuk dikonsultasikan ke dokter spesialis. Selain itu dilakukan check secara detail yaitu rotgen, laboratorium, fisik dan mental. Perawatan di TFC tentunya memerlukan waktu khusus dari sang ibu balita, sehingga pihak pemerintah Kota Depok melalui Dinas Kesehatan Kota Depok memberikan uang saku kepada ibu sebesar Rp. 30.000 dengan batas maksimal 25 hari.

Tahapan-tahapan yang dilakukan di TFC Puskesmas Sukmajaya adalah pertama fase stabilisasi. Yaitu fase pemulihan dengan pemberian makanan yang disebut F-75. Formula ini merupakan makanan cair yang terbuat dari susu, gula pasir, minyak kelapa ditambah dengan mineral mix. Biasanya diberikan selama 3-7 hari. Fase selanjutnya fase transisi diberikan F-100. Makanan cair ini memiliki bahan dasar susu skim, gula dan minyak kelapa. Fase terakhir adalah fase rehabilitasi makanan yang diberikan adalah formula F-135 dengan diberikan makanan bayi/lumat dan sari kurma. Dan kemudian secara bertahap akan beralih kepada makanan biasa sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.

Selain pemberian makanan formula khusus, ibu balita diberikan pelatihan membuat formula. Sehingga ketika balita dan ibu sudah kembali ke rumah maka dapat membuat formula sendiri atau menu yang memiliki gizi. Apabila dilihat lebih jauh permasalahan utama gizi buruk pada balita bukan karena permasalahan kesehatan saja. Namun jika ditelusuri lebih lanjut maka akan diketahui beberapa penyebab diantaranya permasalahan kemiskinan, ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak. Dan faktor kesehatan adalah penyakit bawaan pada anak seperti jantung, TBC bisa menjadi penyebab gizi buruk pada balita.

Bari menambahkan permasalahan gizi buruk bisa terjadi sebelum kelahiran balita. Sehingga perlu adanya kerjasama dengan bagian KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Disarankan kepada Ibu hamil perlu  memperhatikan asupan gizi yang dimakan, sehingga bayi yang lahir bayi yang sehat dan terhindar dari gizi buruk.

@Tim Liputan Diskominfo