Surat Edaran Walikota Depok No.500/1219-Ekonomi tanggal 23 September 2011, himbauan One Day No Rice setiap hari Senin direvisi dengan Surat Edaran Walikota No.500/1688-Ekonomi tanggal 27 Desember 2011. Revisi tersebut mengganti One Day No Rice menjadi hari selasa. Himbauan tersebut belakang ini selalu menjadi topic utama di berbagai media di Kota Depok. Hal tersebut berhasil mencuri perhatian para pemburu berita sejak selasa (14/2/12) lalu, karena Pemkot Depok menggulirkan himbauan Gerakan One Day Rice sebagai tindak lanjut dari UU No.7 Th.1996 tentang pangan dan PP No.68 Th.2002 tentang ketahanan pangan. Himbauan tersebut juga didasari dari PerPres No.22 Th.2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal, Peraturan Menteri Pertanian No.43/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal, PerGub Jawa Barat No.60 Th.2010 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal, Surat Edaran Gubernur Jabar No.501/34/Binprod tanggal 15 Juli perihal Gerakan Menurunkan Konsumsi Beras.

Gerakan yang cukup menuai pro dan kontra ini, bermula dari tindak lanjut Surat Edaran Walikota Depok atas nama Sekretaris Daerah dan ditandatangani oleh Kabag Umum Setda Kota Depok, yakni Surat Edaran Nomor: 010/27-Um tertanggal 10 Februari 2012. Surat tersebut menghimbau kepada para pengelola kantin di lingkungan Balaikota untuk tidak menyediakan bahan pangan dari beras setiap hari Selasa, dan menyediakan makanan pengganti seperti kentang, singkong, ubi, dan lain-lain. Tidak menggunakan lift saat mengantar makanan, membawa makanan dalam wadah tertutup, melakukan pemilahan sampah, dan mengurangi bahan pangan terigu juga tertuang dalam Surat Edaran tersebut.  One Day No Rice merupakan salah satu upaya untuk menjaga ketahanan pangan nasional, karena pangan terbesar yang merupakan beras adalah kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Pemerintah berkewajiban menjaga kestabilan harga beras sehingga senantiasa dapat dijangkau oleh semua kalangan. Lahan perswahan yang semakin menyempit tidak seimbang dengan penduduk yang semakin banyak, karena ketersediaan beras berkurang sedangkan permintaan akan beras semakin meningkat, yang berakibat kenaikan harga beras sulit dikendalikan karena beras merupakan kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Setiap kenaikan beras 10% berkontribusi pada angka inflasi 0,5%. Jika setiap bulan beras naik, dan senantiasa berkontribuisi pada inflasi sebesar 0,5 maka dalam setahun bisa mencapai angka inflasi 6, melebihi dari target nasional, yaitu 5. Ini sangat berbahaya karena belum dipengaruhi oleh biaya berbagai macam kebutuhan pokok lainnya yang turut mempengaruhi inflasi. Jika inflasi tinggi dapat berakibat pada pertumbuhan ekonomi melambat, investor tidak tenang dalam berusaha, dan sugesti negative terhadap para pedagang yang berdampak pada meningkatnya harga kebutuhan lainnya, yang mengakibatkan masyarakat miskin tidak bias menjangkau kebutuhan beras dan kebutuhan lainnya

“Himbauan tersebut diharapkan dapat membangun sinergitas para pengelola kantin dan Pemkot, sehingga Aparatur terbiasa dengan gerakan satu hari tanpa nasi. PNS harus menjadi pelopor dan contoh bagi upaya penurunan konsumsi beras dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kantor maupun di lingkungan masyarakat karena posisi PNS cukup sentral dimasyarakat” himbau Walikota Depok H. Nur Mahmudi Isma’il. Walikota juga menghimbau kepada seluruh Aparatur untuk memahami gerakan ini secara utuh agar bisa melakukan sosialisasi gerakan penurunan konsumsi beras secara lebih intensif kepada masyarakat. One Day No Rice merupakan salah satu upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal untuk mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan beragam, bergizi, berimbang, aman dan halal. Beras yang dihasilkan Kota Depok 5220 ton per tahun, sedangkan konsumsi mencapai 186.026,990 ton per tahun. Berarti ada defisit sebesar kurang lebih 487 ton terhadap produksi perhari. Bila program One Day No Rice berhasil maka akan mengurangi konsumsi beras sebesar kurang lebih 26000 ton per tahun. Saat ini, tingkat konsumsi beras per kapita orang Indonesia per tahun mencapai 139 kg, sementara rata-rata konsumsi beras dunia per kapita per tahun hanya 60 kg.

Gerakan ini memiliki dampak positif nasionalis yang tinggi karena dapat menjaga kestabilan harga beras, menurunkan konsumsi beras sebagai bahan pangan pokok masyarakat yang diiringi dengan peningkatan konsumsi sayuran dan buah, pangan hewani, kacang-kacangan serta umbi-umbian, serta dapat meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang, aman dan halal” jelas Pemimpin Kota Depok ini.

Walikota menambahkan, gerakan ini juga bisa meningkatkan penggunaan bahan makanan hasil potensi lokal, mengurangi ketergantungan bahan konsumsi impor, dan menjaga kestabilan harga bahan kebutuhan pokok lainnya, khususnya bahan makanan.

Beras/nasi adalah makanan yang mempunyai kadar gula tinggi. Jika nasi dikonsumsi terlalu banyak maka level glukosa dalam darah akan meningkat sehingga dapat memicu risiko terkena diabetes. Memang sulit untuk mengganti pola pikir masyarakat tentang nasi. Bahkan, sampai ada pepatah ‘belum makan namanya jika belum makan nasi’. Hilangkan pola pikir seperti pepatah itu dan belajarlah mengganti makanan pokok dari nasi putih menjadi biji-bijian seperti gandum yang bisa mengurangi resiko terkena penyakit diabetes. Jenis karbohidrat seperti ubi, jagung, dan singkong merupakan karbohidrat kompleks dengan kadar gula rendah yang dapat menahan kenyang lebih lama hingga 6 jam. Karbohidrat kompleks bisa disimpan di liver dan otot sebagai glikogen (zat sebelum menjadi glukosa). Jika tubuh kekurangan energi, cadangan glikogenlah yang akan dipecah menjadi glukosa sebagai sumber energi. “Karbohidrat kompleks mengandung lebih sedikit gula tapi lebih tinggi serat, sehingga memberi lebih banyak manfaat. Mari beralih pada ubi, jagung, singkong, talas, dan non terigu lainnya agar tidak tergantung pada bahan pangan dari beras. Biasakanlah konsumsi non terigu dan beras serta karena lebih banyak manfaatnya bagi kesehatan, dan perbanyaklah sayur, lauk, serta buah untuk menjaga keseimbangan gizi. Mari bergerak bersama setiap hari Selasa, untuk memberi contoh tidak mengkonsumsi nasi” ajak Walikota yang tetap sehat, walau tidak mengkonsumsi nasi sejak 5 bulan lalu.