Sungguh sebuah pemandangan yang menarik saat 24.520 orang siswa SD, SMP, dan SMA berkumpul bersama untuk mengonsumsi aneka penganan lokal yang dibuat dari bahan non-beras dan non-terigu. Sebagai gantinya, mereka semua membawa bekal makanan seperti ubi goreng, kacang rebus, tiwul, jagung, kacang tanah, singkong, kentang, dan aneka umbi-umbian lainnya. Seorang siswa dari SD Tugu 9 Cimanggis bernama Jerry bahkan terlihat antusias saat menghabiskan nasi tiwul dan getuk yang dibawanya dari rumah, “Enak makan tiwul sama getuk. Ibu suka bikinin setiap hari minggu. Kalo waktu di kampung, makan tiwul sama gatot setiap hari. Soalnya suka sih.” Celotehnya riang saat diwawancarai oleh reporter www.depok.go.id. Meskipun udara cukup panas dan keringat meleleh di pelipis wajahnya, namun Jerry tampak ceria makan bersama dengan teman-teman satu sekolahnya sambil menunggu acara dimulai. Pagi itu, Minggu, 22 April 2012, Kota Depok mencatatkan sejarahnya di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pemegang rekor dengan peserta Makan Makanan Lokal Non-Beras dengan jumlah peserta terbanyak.

Pemecahan rekor ini merupakan sesuatu yang unik dan sarat dengan muatan nasionalisme. Karena di era globalisasi ini, dimana semua bangsa menjadi saling tergantung dan mempengaruhi dalam berbagai bidang kehidupan, tentu menjadi peluang dan tantangan tersendiri bagi Bangsa Indonesia untuk bisa bersaing dan mempertahankan produk-produk unggulannya supaya tidak kalah bersaing dengan negara lain. Prpgram One Day No Rice (ODNR) yang digagas oleh Walikota Depok, H. Nur Mahmudi Ismail, merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menciptakan ketahanan nasional di bidang pangan. Karena sebagaimana diketahui, maraknya perkembangan restoran cepat saji dan gerai-gerai yang menawarkan menu-menu makanan khas negara barat dan negara lainnya membuat masyarakat, termasuk anak-anak, semakin lama jadi semakin menggemari makanan luar daripada makanan khas Indonesia. Hal ini sangat disayangkan mengingat begitu banyak dan beragamnya varian olahan penganan lokal yang tidak kalah nikmat daripada makanan asing lainnya namun menjadi hal yang asing bagi masyarakat kita.

Pemecahan rekor MURI yang diraih oleh Kota Depok dengan melibatkan puluhan ribu siswa di lapangan Kartika Cilodong Depok tiga hari yang lalu, merupakan sebuah langkah nyata dari Walikota Depok untuk menanamkan rasa cinta terhadap makanan lokal sejak usia dini. Karena semua siswa tersebut merupakan generasi muda penerus bangsa. Bila tidak ditanamkan rasa cinta terhadap produk-produk lokal buatan dalam negeri, lalu siapa lagi yang akan bangga terhadap makanan asli Indonesia? (RN/Diskominfo)