Pasar tradisional adalah pasar yang berlokasi permanen, ada pengelola, sebagian besar barang yang diperjualbelikan adalah kebutuhan dasar sehari-hari dengan praktek perdagangan dan fasilitas infrastuktur yang sederhana, dan ada interaksi langsung antara penjual dan pembeli. Dilain pihak nampaknya masyarakat cenderung lebih menyukai pasar modern yang menjual pangan dengan pelayanan yang lebih baik, lebih bersih, aman dan nyaman.

Pasar memiliki posisi yang sangat penting untuk menyediakan pangan yang aman, dan pasar tersebut dipengaruhi oleh keberadaan produsen hulu (penyedia bahan segar), pemasok, penjual, konsumen, manajer pasar, petugas yang berhubungan dengan kesehatan dan tokoh masyarakat. Oleh karena itu komitmen dan partisipasi aktif para stakeholder sangat dibutuhkan untuk mengembangkan Pasar sehat.

Pasar sehat merupakan salah satu tatanan di dalam pengembangan program kota sehat seperti yang sudah tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kesehatan No 34 tahun 2005 dan Nomor 519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman penyelenggaraan Pasar sehat. Pasar sehat mutlak diperlukan dalam mewujudkan Kota Sehat dimana keberadaannya merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

Saat ini di Kota Depok terdapat 9 pasar tradisional yang dibina oleh Pemerintah Kota Depok. Dari 9 Pasar Tradisional yang telah dibina dan  diinspeksi pada bulan Maret tahun 2009 lalu, didapatkan bahwa rata-rata pasar yang ada di Kota Depok secara fisik tidak memenuhi syarat dan jika dilihat dari aspek kualitas hygiene sanitasi pasar didapatkan sebagai berikut : Pasar Pucung (TMS=56,13 %), Pasar Depok Jaya (TMS=67,5 %), Pasar Kemiri Muka (TMS=48,87 %) Pasar Deppen Sukatani (TMS=38,55 %) Pasar Pal Tugu (TMS=45,22 %) Pasar Cisalak (TMS=49,46 %) Pasar Agung (TMS=60,27 13%) Pasar Musi (TMS=33,66 %) Pasar Reni Jaya (TMS=21,18 %).

Dengan melihat kondisi demikian bila pasar tidak dikelola dengan baik atau didiamkan saja, hal ini akan menimbulkan dampak seperti timbulnya dan berinduknya sarang-sarang vektor penyakit, serta turunnya nilai-nilai estetika  karena lingkungan pasar yang kotor dan  becek. Oleh karena itu sebagai tindak lanjut kegiatan inspeksi sanitasi pasar tahun 2009 telah dilakukan penyuluhan pasar sehat (2009), workshop pasar (2011) dan bantuan stimulan pembuatan sarana cuci tangan di pasar (2011).

Tujuan umum yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah meningkatnya kualitas hygiene sanitasi pasar di Kota Depok. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah meningkatkan personal hygiene pedagang pasar dengan menyediakan sarana cuci tangan di pasar. Sasaran kegiatan ini adalah Pasar Agung yang dapat dipakai sebagai percontohan bagi pasar-pasar yang lain. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 22 November s/d 15 Desember 2011. Pelaksana kegiatan adalah Seksi Penyehatan Lingkungan bersama pelaksana sanitasi Puskesmas Abadi Jaya, UPT Pasar Agung, Paguyuban Pedagang Pasar Agung dan para pedagang.

Hasil yang dicapai dalam kegiatan ini telah sesuai dengan rencana bahkan melebihi target yang ditetapkan. Dalam indikator input telah diperoleh dana yang diperlukan, sumber daya manusia pelaksana yang terdiri dari UPT Pasar Agung, Sanitarian Puskesmas Abadi Jaya, Paguyuban Pedagang Pasar Agung. Dalam indikator proses telah diperoleh kerjasama yang baik antara semua pihak, dan dari indikator hasil telah terbangun 5 unit tempat cuci tangan dari semula 1 unit yang direncanakan. Lokasi pembuatan cuci tangan di blok penjualan daging, karena disinilah faktor risiko yang tinggi yang perlu dicegah dengan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun yang baik.

Sumber : Karnadi – Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Depok