Walikota Depok, H. Nur Mahmudi Ismail, yang belum lama ini memecahkan rekor Museum Republik Indonesia (MURI) nasional dan dunia sebagai pemrakarsa makan penganan bukan-beras dengan peserta terbanyak 24.520 orang, dalam berbagai kesempatan selalu meluangkan waktunya untuk memberikan informasi dan sosialisasi kepada publik mengenai pentingnya melakukan diversifikasi pangan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap makanan yang berasal dari beras dan tepung terigu atau dikenal dengan gerakan One Day No Rice (ODNR).

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap beras, karena mayoritas penduduknya mengkonsumsi nasi sebagai bahan makanan pokok. Berdasarkan data dari www.tempo.co., disebutkan bahwa saat ini orang Indonesia mengkonsumsi beras hingga 130-140 kilogram per tahun/orang. Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan orang Asia lainnya yang hanya mengkonsumsi beras sebanyak 65-70 kilogram pertahun/orang.

Tingginya konsumsi beras, menyebabkan masyarakat menjadi sangat tergantung dengan ketersediaan bahan pangan yang satu ini. Kondisi ini telah menyebabkan harga beras menjadi mahal dan tidak stabil. Apalagi saat ini Indonesia masih mengimpor beras dari negara lain seperti Vietnam, Thailand, China, India, Pakistan dan beberapa negara lainnya. Sehingga bukan tidak mungkin bila suatu saat pasokan beras berkurang, maka akan memicu inflasi dan stabilitas harga beras di dalam negeri.

Oleh karena itu, Program ODNR yang saat ini baru diterapkan setiap hari Selasa di lingkungan Pemerintah Kota Depok ini, sebenarnya memiliki dampak nasionalis yang tinggi. Karena dengan tidak mengkonsumsi nasi dan makanan olahan beras lainnya selama satu hari, dan mengganti beras dengan makanan pokok lainnya seperti singkong, jagung, ubi, kentang, dan umbi-umbian lainnya, selain dapat menurunkan konsumsi beras sebagai bahan pangan pokok masyarakat dan meningkatkan konsumsi pangan lainnya, juga untuk mengurangi ketergantungan bahan konsumsi impor, dan menjaga kestabilan harga beras serta bahan kebutuhan pokok lainnya, khususnya bahan makanan. Dan yang terpenting dari semua itu, dengan mengurangi konsumsi beras, secara tidak langsung dapat mengurangi impor dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani dan pedagang lokal. (RN/Diskominfo)