eco

TUNJUKKAN : Founder Depok Eco Friendly, Sri Suparti menunjukkan hasil kerajinan dari limbah non organik yang mempunyai nilai jual di UKM Center Lantai Dasar ITC Depok. (Foto: Janet/Diskominfo)

depok.go.id- Komunitas Depok Eco Friendly kreatif memanfaatkan limbah menjadi barang ekonomis, seperti tas, wadah tanaman dan barang kerajinan lainnya. Founder Depok Eco Friendly, Sri Suparwati mengatakan, dirinya membentuk komunitas tersebut untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan limbah menjadi barang kerajinan yang bernilai jual.

“Depok Eco Friendly mulai terbentuk sejak 22 Januari 2017. Anggota kami ada enam orang yang tulus untuk menjaga kelestarian alam dengan menyulap limbah menjadi yang bermanfaat. Misalnya, bungkus kopi menjadi tas, koran bekas menjadi topi, botol bekas menjadi wadah tanaman, limbah organik kulit bawang menjadi hiasan dinding,” kata Sri Suparwati kepada depok.go.id, Jumat (31/03/2017).

Sri mengatakan, awalnya sempat berprofesi sebagai guru di salah satu SMP dan menjadi karyawan perguruan tinggi di Jakarta. Dirinya juga sekaligus ikut melatih bank sampah yang ada di Kota Depok. Namun, rupanya pekerjaan tersebut ditinggalkan. Kemudian Sri memutuskan membentuk Depok Eco Friendly yang membuat dan menjual kerajinan berbahan dasar limbah bersama rekan-rekannya.

“Untuk produk saya sendiri namanya Khanzaru Art tapi untuk  Depok Eco Friendly kami bermintra dengan bank sampah yang ada di Kota Depok, jika yang an organik dijadikan kerajinan yang organik kami endapkan menjadi pupuk,” ujarnya.

Menurutnya, Depok Eco Friendly sudah sering mengikuti berbagai pameran dengan harapan masyarakat dapat mengenal berbagai produk kerajinan berbahan dasar limbah tersebut. Dengan begitu, pihaknya ingin menggugah kesadaran warga Depok untuk ikut melakukan daur ulang barang bekas menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Masyarakat dapat memilah limbah dari sumbernya, antara limbah organik dan non organik. Setelah dipisahkan buat produk yang kreatif dari limbah tersebut. Selain dapat membantu perekonomian keluarga, dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi pembuangan limbah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” terangnya.

Sri menambahkan, dengan menyulap limbah menjadi produk kerajinan. Respon turis asing juga bagus dengan memborong produk kerajinan tersebut. Lebih lanjut, warga Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji tersebut menuturkan, ke depan, pihaknya akan menyambangi 11 kecamatan di Kota Depok untuk menawarkan pelatihan berbayar murah.

“Rencana menyambangi 11 kecamatan itu agar tercapai pendekatan one village one product (OVOP) atau satu desa satu produk di Kota Depok. Semoga bisa terealisasikan,” tutupnya.

Penulis: Janet Swastika

Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita

 

Diskominfo

Bagikan post melalui :