depok.go.id – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) telah ditutup sejak 11 Juli lalu, namun masih banyak siswa yang tidak tertampung akibat keterbatasan kelas yang tersedia di SMA Negeri di Depok. Hal ini memaksa Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok membuka kelas filial atau kelas jauh.

Program filial merupakan program solusi bagi seluruh siswa yang tidak ‘kebagian jatah’ kursi di SMA negeri, namun ingin bersekolah negeri. Untuk itu, dibuatlah filial atau kelas jauh dengan ruang belajar mengajarnya menumpang di sekolah lain.

Setelah program berjalan, beberapa wali murid banyak yang mengeluhkan kebijakan Disdik akan sekolah filial ini. Salah seorang wali murid mengaku pernah dimintai oknum untuk membayar sejumlah uang agar anaknya bisa masuk ke sekolah yang diinginkan. Akan tetapi, pada kenyataannya menurut tes yang telah diikuti, siswa tersebut mendapat sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya dan tidak sesuai keinginan awal.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan Disdik Kota Depok, Tatik Wijayati mengatakan, segala pengaduan masyarakat telah ditanggapi serius oleh pihaknya, bahkan dirinya mengaku telah memeriksa seluruh guru yang diduga terlibat, namun tidak ditemukan satupun oknum tersebut.

“seluruh proses yang dijalani siswa untuk mendapatkan kelas filial tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. Kami punya bukti karena tugas kami untuk mengawal jalannya PPDB juga sudah diperiksa inspektorat. Pihak kami telah memeriksa kepada guru-guru, mereka tidak ada yang merasa menerima uang,” tegasnya, Selasa (01/09/15).

Tatik menambahkan, wali murid yang juga telah mengajukan nasibnya ke media cetak maupun online, tidak bisa menunjukkan bukti tuduhan berupa kuitansi. Mereka hanya bisa berbicara tanpa menunjuk siapa oknum yang terlibat.

“Cari sekolah ya jalurnya yang benar. Kalau bayarnya ke orang lain ya mohon maaf kami tidak bisa bantu, karena dari awal kami pun sudah mensosialisasikan cara mendaftar yang baik dan benar,” terang wanita yang juga menjadi Panitia Pelaksanaan PPBD 2015 ini. (Vidyanita/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :