Kepala Seksi Pengolahan Sampah Bidang Kebersihan DLHK Kota Depok, Anak Agung Made Sukartini, saat mengedukasi masyarakat tentang maggot pada kegiatan Pameran Pembangunan Kota Depok di Balai Kota Depok, belum lama ini. (Foto : Diskominfo)

depok.go.id-Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok masih mengandalkan maggot (larva hitam) untuk mengurai sampah organik. Bahkan, keunggulan maggot juga sudah dikenalkan DLHK sampai ke Papua.

“Sampai sekarang, maggot menjadi alternatif kami dalam mengurai sampah organik. Keberhasilan ini juga menjadi daya tarik kota/kabupaten lain untuk belajar maggot ke Kota Depok. Bahkan, Kepala Dinas Kebersihan di Papua, juga sudah berkunjung ke Kota Depok,” ujar Kepala Seksi Pengolahan Sampah Bidang Kebersihan DLHK Kota Depok, Anak Agung Made Sukartini, di Kota Depok, baru-baru ini.

Dirinya menyebut, maggot merupakan larva serangga hitam dan bisa memakan sampah organik. Menurutnya, maggot memiliki potensi ekonomi, karena mengandung protein yang sangat tinggi melebihi kroto (telur semut rangrang).

“Larva telur sampai dewasa, usianya 21 hari, sekali bertelur jika dikalkulasikan bisa mencapai 10-20 kilo. Semasa pertumbuhannya, maggot bisa mengurai sampah 1000 sampai 2 ribu kilo sampah organik,” katanya.

Pemkot Depok, kata dia, juga terus mendorong masyarakat untuk bisa memanfaatkannya, karena dalam satu kilogram maggot memiliki harga Rp 10-20 ribu. Dengan harga semahal itu, maggot bisa juga jadi peluang bisnis bagi masyarakat sekaligus membantu penyelesaian persoalan sampah organik.

“Dengan begitu bisa juga meningkatkan ekonomi masyarakat. Mudah-mudahan keuntungan ini bisa menarik masyarakat untuk ikut budi daya maggot,” pungkasnya.

Penulis: Vidyanita
Editor: Dunih

Diskominfo

Bagikan post melalui :