Pengusaha Warung Internet

Dina Ratna Kartika, Kepala Sub Bagian Advokasi pada Bagian Hukum Setda Kota Depok. (Diskominfo-Nurul)

depok.go.id – Pengusaha Warung Internet (Warnet) di Kota Depok diminta untuk tidak lagi memasang bilik tertutup sebagai pemisah antara komputer satu dengan komputer lainnya. Hal ini karena bilik dengan kondisi tertutup dikhawatirkan dapat mendorong pengguna melakukan hal-hal negatif, baik membuka konten yang dilarang maupun hingga tindakan Asusila.

Hal tersebut dibahas saat sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2015 tentang penyelenggaraan komunikasi dan informatika, di aula lantai 5 Gedung Balai Kota Depok, Selasa (02/12/2015).

Kepala Sub Bagian Advokasi pada Bagian Hukum Setda Kota Depok, Dina Ratna Kartika, sebagai salah satu pemateri mengungkapkan di dalam Perda yang baru disahkan pertengahan tahun 2015 ini dalam pasal 21 ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pendirian sebuah Warnet yaitu aspek kenyamanan pengguna, aspek kenyamanan lingkungan sosial, dan penggunaan perangkat yang sesuai aturan.

“Lebih spesifik lagi dalam pasal 21 ayat 5 huruf A disebutkan tidak diperbolehkan adanya sekat pembatas atau bilik komputer, hal ini dimaksudkan agar tercipta kenyamanan bagi semua pihak,” ungkap Dina.

Selain poin tidak perlu adanya bilik, poin lainnya yang perlu diperhatikan para pengusaha Warnet yang terdapat dalam Perda ialah memiliki penerangan yang memadai dan nyaman untuk mendukung aktivitas di lingkungan Warnet, memiliki sirkulasi udara/fan/Air Conditioner (AC), memiliki tanda larangan merokok di lingkungan Warnet, memiliki kamar kecil dan ketersediaan air bersih, serta memiliki pintu keluar-masuk yang cukup.

Pada pasal 23, Dina menyebutkan Perda Nomor 3 Tahun 2015 ini mengatur mengenai yang tidak boleh dilakukan oleh Warnet, seperti menyediakan, menyimpan, dan menyebarluaskan konten pornografi, SARA, kebencian terhadap sesama WNI. Selain itu, Warnet juga dilarang menyediakan, menyimpan, mengedarkan, dan memfasilitasi segala bentuk minuman keras, dan Narkoba. Sementara yang terakhir, imbuh Dina, yaitu mengizinkan pelajar dan anak di bawah umur menggunakan jasa Warnet.

“Untuk poin yang terakhir saya ingin tekankan, yang tidak diperbolehkan itu apabila pelajar yang masih memakai seragam dan pada jam sekolah. Namun apabila sudah jamnya pulang sekolah dan mereka sudah tidak memakai seragam diperbolehkan, karena bagaimanapun Warnet juga diperlukan bagi para pelajar yang ingin mencari bahan tugas untuk sekolah,” tutup Dina. (Nurul Hasanah/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :