balai penyuluhan sawangan

Display tanaman Hidrophonik, bibit buah-buahan serta sayuran dan kolam ikan. (Foto : Dokumentasi Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan)

depok.go.id – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Depok telah menetapkan lahan di Tapos untuk dijadikan pilot project sistem integrasi tanaman dan ternak. Dengan sistem ini, produksi pertanian dan peternakan bisa saling mendukung untuk meningkatkan hasil yang maksimal.

“Kami sudah menyediakan dua sapi untuk program percontohan ini, di sawah seluas 66 hektare di kawasan Tapos,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas KPPP, Hermin Kusmiati di ruang kerjanya, Jumat (03/02/17).

Dikatakannya, program ini baru akan dilaksanakan pada Februari 2017. Program integrasi dilakukan sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan dan hortikultura di Kota Depok.

“Selain itu, program ini digulirkan untuk mewujudkan program unggulan Kota Depok yaitu, Sahabat Petani. Diharapkan dengan adanya sistem integrasi tanaman ternak, mampu meningkatkan ekonomi para petani,” harapnya.

Hermin menambahkan, potensi pertanian di Depok juga didukung dengan keberadaan 127 hektare lahan persawahan yang tersebar di Kecamatan Tapos, Sawangan, Bojongsari, Limo, Cipayung, dan Cilodong.

“Bahkan, dalam setahun area persawahan di Depok mampu menghasilkan 1.500 ton padi, yang dikonsumsi petaninya sendiri,” tambahnya.

Sedangkan total lahan pertanian pangan, hortikultura, perikanan dan peternakan masih tersisa sekitar 500 hektare. Kota Depok sendiri akan melakukan penyesuaian luas lahan pertanian yang berada dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Depok.

“Di Perda RTRW sudah ditetapkan lahan pertanian 529 hektare. Tapi, ada pemilik lahan yang ditetapkan sebagai lahan pertanian ingin menggunakan lahannya. Untuk itu nantinya akan ada penyesuaian lahan,” tegasnya.

Penulis: Vidyanita
Editor: Dunih dan Yulia Shoim

Diskominfo

Bagikan post melalui :