???????????????????????????????

Titi saat menjaga stand Kecamatan Sawangan, memamerkan hasil produksinya berupa Jelly dan cendol yang terbuat dari lidah buaya pada ajang pameran Industri Kreatif 2015 di Area Balai Kota Depok, Kamis (04/06/15)

depok.go.id – Di tengah cuaca terik, biasanya seseorang akan membutuhkan minuman sebagai penawar dahaga. Namun, tidak perlu khawatir kehausan. Sekarang ada jelly lidah buaya (aloe vera) yang bisa menjadi alternatif minuman yang menyegarkan, tetapi tetap menyehatkan.

Adalah Titi, yang membuat minuman menyegarkan ini sejak tahun 2010. Bersama suaminya, Titi mengembangkan usaha jelly lidah buaya ini hingga dikenal ke seluruh nusantara.

“Alhamdulillah, sudah banyak pesanan dari berbagai daerah baik produk yang sudah jadi, jelly lidah buaya, maupun bahan baku mentahnya berupa lidah buayanya saja,” ujar Titi, pemilik usaha Tita Food saat ditemui di pameran Industri Kreatif Disperindag 2015 di Area Balai Kota Depok, Kamis (04/06/15).

Pengunjung pameran Industri Kreatif 2015 tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk merasakan kesegaran jelly lidah buaya ini. Cukup dengan harga 1.000 rupiah, pengunjung sudah bisa mengobati rasa haus di tengah panasnya matahari.

Selain jelly lidah buaya, warga Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan ini menyediakan pula cendol lidah buaya. Rasa dan kesegaran dari cendol ini tidak kalah dari jelly lidah buaya. Akan tetapi, jelly lidah buaya lebih tahan di dalam kemasannya dibanding dengan cendol. Hal itu dikarenakan di dalam bahan cendol lidah buaya terdapat santan sebagai salah satu bahan pembuatnya.

“Biasanya untuk jelly lidah buaya bisa tahan hingga satu minggu, sedangkan cendol lidah buaya hanya bisa bertahan satu hari saja,” ungkap ibu 3 anak ini.

Perempuan berhijab itu mengaku, walaupun saat ini dirinya menanam lidah buaya sendiri untuk produksi jelly dan cendol lidah buaya, namun Titi sering mengalami kekurangan bahan baku. Bahkan, sampai tidak bisa memenuhi beberapa pesanan dalam jumlah besar.

“Pernah ada yang meminta untuk disiapkan bahan baku lidah buaya sebanyak 1 kuintal sehari dari perusahaan kosmetik ternama, namun saya tolak karena tidak ada sampai sebanyak itu kalau saya panen lidah buaya,” tambahnya.

Ke depannya, Titi akan berusaha untuk memberdayakan tetangga sekitar rumahnya untuk mau mulai menanam lidah buaya. Mengingat besarnya peluang usaha dari tanaman yang bernama latin Aloe barbadensis Milleer tersebut. (Nurul Hasanah/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo)

Bagikan post melalui :