komunitas golok

PAMERAN: Sekretaris Komunitas Golok Depok, Muzni Nazar, saat melakukan pameran golok di salah satu mal di Kota Depok, belum lama ini. (Foto: Afifah)

depok.go.id- Pemerintah Kota secara serius melestarikan budaya berupa fasilitas serta perhatian penuh. Langkah tersebut juga menjadi konsentrasi elemen masyarakat. Salah satunya dari Komunitas Golok Depok yang baru diresmikan oleh Wali Kota Depok, Mohammad Idris pada tanggal 19 Maret 2017.

Sekretaris Komunitas Golok Depok, Muzni Nazar, mengatakan kecintaan pada budaya merupakan faktor awal dari terbentuknya Komunitas Golok Depok. Pihaknya ingin membuat suatu wadah sebagai upaya pelestarian budaya betawi khas Depok.

“Golok menjadi bagian budaya yang tidak boleh hilang sama sekali. Saat ini budaya betawi identik hanya pada tarian, kuliner atau batu cincin. Sehingga golok yang merupakan budaya betawi tidak boleh punah dan dilupakan,” ujarnya kepada depok.go.id, Jumat (07/04/2017).

Muzni menuturkan, komunitas tersebut memiliki anggota lebih dari 200 orang. Dikatakannya, tiap minggu komunitas tersebut memiliki agenda kumpul bareng dan berdiskusi.

“Kami mendiskusikan mulai dari sisi keagamaan, sosial dan pendidikan. Tak menutup kemungkinan, ada juga transaksi jual beli golok antar anggota kami,” katanya.

Dikatakannya, golok Depok memiliki ciri khas yang berbeda dengan golok dari daerah lainnya. Untuk golok Depok memiliki ciri khas yaitu lebih besar, lebih tebal, ujung goloknya berbentuk sala menunggal atau kopak krawing.

“Kami sering mengikuti pameran atau stand di beragam kegiatan guna memperkenalkan golok Depok pada masyarakat, khususnya generasi muda,” ucapnya.

Muzni berharap, keberadaan golok Depok dapat lestari dan tidak ditinggalkan oleh generasi muda. Dirinya menambahkan, komunitas golok tetap membutuhkan bantuan dan binaan pemerintah untuk mewujudkan harapan tersebut.

“Kami tidak menginginkan di masa depan para generasi muda beranggapan dulu pernah ada budaya betawi. Mereka harus terus berpikir, budaya betawi di Depok ada dan tak lekang oleh waktu,” pungkasnya.

Penulis: Nur Afifah

Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita

 

Diskominfo

Bagikan post melalui :