Sulastomo

Salah satu tokoh pers nasional, Sulastomo. (Foto : Nurul/Diskominfo)

depok.go.id – Seiring bergulirnya reformasi di Indonesia, pers memiliki kebebasan dalam menyuarakan informasi kepada masyarakat. Namun, kebebasan itu harus bisa dipertanggungjawabkan agar pers tidak kebablasan dalam pemberitaan dan tetap menjadi pilar demokrasi keempat yang mampu mengawal perubahan.

“Kebebasan pers tanpa tanggung jawab tidaklah lengkap. Dengan dijunjung tinggi asas ini, maka akan adanya keseimbangan dan keserasian antara kebebasan dan tanggung jawab,” ujar tokoh pers nasional asal Depok, Sulastomo, saat ditemui di Sekolah Islam Dian Didaktika, Cinere, Rabu (08/02/2017).

Sulastomo yang pernah menerima Long Life Achievement Award dari Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) mengatakan, meskipun era reformasi menuntut adanya kebebasan pers dalam memberitakan ke masyarakat, namun hendaknya insan pers memberikan informasi dalam koridor yang bertanggung jawab.

“Kebebasan pers tanpa tanggung jawab tidaklah lengkap. Dengan dijunjung tinggi asas ini maka akan adanya keseimbangan dan keserasian antara kebebasan dan tanggung jawab,” tegas Sulastomo yang pernah menjadi anggota Dewan Pers 2001-2006.

Terkait peringatan Hari Pers Nasional ke-71 ini, Sulastomo yang pernah membidani lahirnya salah satu koran nasional di Indonesia, berpandangan sebuah filosofi pers yang umumnya dipakai yakni bad news is a good news, sangat tidak relevan diterapkan di Indonesia, karena filosofi itu berasal dari pers barat. Menurutnya, seharusnya bad news ada yang tidak boleh ditulis.

“Misalnya ada kasus perkosaan, kalau ditulis secara detail di sebuah berita, apakah tidak akan memberi petunjuk pada orang jahat untuk melakukan hal yang tidak diinginkan? Kalau begini kan harusnya dipikir lagi. Sebenarnya perlu atau tidak berita seperti ini dibuat,” katanya.

Untuk itu, lanjut Sulastomo, dibutuhkan adanya suatu kesadaran tersendiri dari kalangan pers untuk lebih selektif mana berita yang pantas dan tidak pantas diberitakan ke masyarakat.

“Pemikiran saya ini mungkin banyak kalangan yang tidak setuju. Tapi, ini merupakan idealitas saya. Prinsip saya yang saya pegang terus,” ucapnya.

Selain itu, Sulastomo yang dinobatkan sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) seumur hidup ini, juga menilai saat ini kalangan pers sudah sangat mendapatkan kemudahan akses dalam menembus pemerintahan, khususnya di Pemerintah Kota Depok. Sehingga saat ini berbagai program dan informasi dari Pemerintah dapat langsung diketahui masyarakat.

“Keterbukaan dari pemerintah itu ialah sebuah keharusan, agar masyarakat mengetahui program yang sedang berjalan di Pemkot Depok. Namun tetap, rahasia pemerintah itu masih tetap harus ada, dan pers wajib menghormatinya,” jelasnya.

Dirinya juga berpendapat, keterbukaan pejabat di Pemkot Depok dengan Pers akan menjadi sebuah tindakan yang baik. Sebab, pers merupakan sebuah sarana menampung aspirasi masyarakat dan mencerminkan kondisi masyarakat terkini.

“Dengarkan suara pers, karena suara pers itu cerminan keinginan masyarakat. Meskipun tetap berita yang keluar harus diseleksi terlebih dahulu,” tuturnya.

Terkait maraknya kemunculan media online, tokoh pers senior yang sudah aktif menulis sejak masih mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) ini, menilai keberadaan pers media online membawa dampak tersendiri di tengah masyarakat.

Meskipun begitu, Dia merasa yakin suatu hari nanti, pers dari media cetak ini akan mengalami suatu masa kebangkitan kembali (reborn). Serta akan memulai sebuah babak kesuksesan terbaru.

“Kita melihat dewasa ini pers media cetak seperti koran atau majalah tergerus oleh media online yang berbasis internet. Saya menilai ini hanya sementara saja, karena suatu hari nanti media cetak akan mengalami reborn dan mempunyai bentuknya yang baru dan tetap akan dicintai dan dicari masyarakat,” katanya.

Dirinya menginginkan ke depan, pers diharapkan mampu memajukan anak bangsa lewat informasi yang disajikan. Yakni bagaimana memberikan berita-berita yang mendidik dan mencerahkan, serta keabsahan dan keakuratan informasi menjadi senjata utama bagi pers dalam mencerahkan bangsa.

“Apalagi sekarang era globalisasi. Perkembangan teknologi luar biasa pesatnya. Mau dibawa ke mana arah bangsa ini, ya salah satunya tergantung pers. Mari kita bersama-sama cerdaskan bangsa lewat informasi yang tepat,” tandasnya.

Penulis: Nurul Hasanah
Editor: Dunih dan Yulia Shoim

Diskominfo

Bagikan post melalui :