dinkes kota depokdepok.go.id – Kasus tewasnya Allya Siska Nadya pasca mengikuti terapi di Chiropractic (Metode pengobatan untuk membetulkan struktur tulang belakang dengan menggunakan tangan) di sebuah klinik membuat publik geger.

Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Hidayat Nur Ghazali, mengatakan untuk perizinan klinik di Kota Depok, segala aturannya dijelaskan dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2011 tentang Perizinan dan Sertifikasi Bidang Kesehatan. Selain itu, diatur juga dalam peraturan Walikota yang mengatur secara lebih detail lagi.

Hidayat juga menambahkan hingga saat ini jumlah klinik di Depok mengalami penurunan, di mana tahun 2010 jumlah klinik di Depok berjumlah 150 klinik.

“Ada beberapa yang tutup dan kini hanya tinggal 114 yang terdaftar, dan paling banyak di Kecamatan Sukmajaya,” katanya.

Ia meyakinkan, 114 klinik yang terdaftar tersebut yang posisinya umumnya berada di jalan utama atau jalan besar adalah klinik yang aman karena memiliki izin dan legalitas yang jelas dari Dinkes Kota Depok.

Dirinya meminta kepada masyarakat untuk proaktif apabila hendak berobat maka harus teliti untuk memeriksakan diri di klinik yang memang legal. Misalnya melihat apakah ada izin dalam papan yang dipasang. Kemudian melihat masa berlaku izinnya. Tenaga medisnya bukan tenaga asing, karena di Indonesia dokter asing dilarang maka di Depok tidak ada, mereka hanya boleh mentransfer ilmu saja. Jika melakukan tindakan medis, harus ditemani dokter dari Indonesia.

“Untuk tenaga medis sendiri, harus mengantongi Surat Izin Praktek (SIP) dan Surat Tanda Registrasi (STR). STR seorang tenaga medis juga harus diperbarui tiap lima tahun sekali,” tutup Hidayat. (Nurul Hasanah/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :