hasil stop motion animation

Puluhan anak-anak Depok menyaksikan hasil stop motion animation yang mereka kreasikan sendiri, Minggu (12/11/2017). (Foto Pipin/Diskominfo)

depok.go.id – Penguasaan anak-anak terhadap dunia digital tidak selalu berdampak negatif. Apabila mereka diarahkan dengan cara yang baik, potensi tersebut berdampak positif terhadap perkembangan karakternya seperti yang dilakukan Komunitas Internet Sehat Anak (KISA), dengan mengajak puluhan anak Depok berkreasi lewat Stop Motion Animation.

Ketua Pelaksana Stop Motion Animation, Devi Fitri Oktaviani mengatakan, di era saat ini, anak-anak bisa mengoperasikan laptop, gadget (gawai), atau kamera. Selain itu, imbuhnya, mereka juga terbiasa bermain dengan clay  (tanah liat).

“Nah, dari barang-barang yang dasar tersebut, kita kombinasikan menjadi satu karya animasi yang apik. Semua karakternya dibuat sendiri oleh mereka, nanti kita bantu untuk membuat animasinya lewat software video editing,” kata Devi di Studio Porto, Jalan KH M Yusuf Ruko No 2, Kelurahan Mekarjaya, Minggu (12/11/2017).

Devi menambahkan, sebagai perkenalan dengan dunia animasi, anak-anak diberikan beberapa pengetahuan tentang jenis-jenis animasi. Selain itu, mereka juga ditunjukkan animasi karya anak negeri yang diakui dunia internasional, agar mereka termotivasi menapaki dunia animasi lebih serius.

Senada dengan Devi, Co-Founder Dapoer Animasi, Rangga Yudo Yuwono mengatakan, pengenalan pembuatan animasi kepada anak-anak merupakan langkah yang tepat  untuk mengkombinasikan kreativitas dan teknologi. Secara psikologis, imbuhnya, anak-anak dilatih kesabarannya dalam membuat satu proyek.

“Lebih dari itu, membuat animasi ini tidak bisa dilakukan seorang diri. Tapi harus bekerja sama, di sini akan dibangun komunikasi sosial mereka dengan sesama,” lanjutnya.

Sementara itu, Muhammad Zaki (11 tahun), salah seorang peserta yang mengikuti pengenalan animasi mengaku senang bisa belajar tentang animasi. Dengan pengenalan tersebut, dirinya menjadi lebih tahu tentang animasi, bukan hanya sebagai penonton, tapi menjadi orang yang membuatnya.

“Kalau nonton animasi kan biasa, tapi dengan membuatnya ada pembelajaran yang bisa diambil. Menurut saya, kegiatan ini bagus,” tutupnya.

Penulis: Pipin Nurullah

Editor: Dunih dan Rita Nurlita

Diskominfo

Bagikan post melalui :