halo polisiDepok.go.id- Pemerintah Kota (Pemkot) dan Polresta Depok bekerja sama menekan tindak kejahatan di kota yang memiliki tagline Friendly City. Polresta Depok pun meluncurkan dua aplikasi program unggulan Halo Polisi dan Panic Button pada akhir 2016.
Anggota Humas Polresta Depok, Briptu Arifin, mengatakan aplikasi Halo Polisi ini berisi berbagai informasi seputar aktivitas interaksi dengan masyarakat yang dilakukan kepolisian di Depok. Ia juga mengaku Halo Polisi mengambil ide dari aplikasi media sosial, berisi informasi yang dikemas secara aktual melalui perpaduan antara foto dan berita. Berdasarkan data yang dihimpun hingga Rabu (08/02/2017), sudah ada 6.340 warga Depok maupun luar daerah yang menjadi pengguna aplikasi atau user Halo Polisi.
“Aplikasi Halo Polisi didesain seperti layaknya media sosial. Agar para pengguna dapat leluasa memanfaatkan setiap fiturnya. Informasi yang disampaikan seperti kegiatan ronda anggota Polres dan Polsek bersama masyarakat, kegiatan menjaga gangguan Kamtibmas di masyarakat hingga kondisi lalu lintas,” jelas Briptu Arifin kepada depok.go.id, belum lama ini.
Dengan adanya aplikasi Halo Polisi, banyak warga Depok sebagai user ikut berpartisipasi melaporkan kegiatan kepolisian dan ikut menyosialisasikan adanya aplikasi tersebut. Selain warga Depok, ada juga pengguna Halo Polisi yang berasal dari Jakarta, Padang, Palembang, Semarang dan Surabaya.
Sementara itu, Anggota Humas Polresta Depok, Briptu Djarot menuturkan, bahwa Panic Button adalah alat aplikasi meminta bantuan secara cepat yang digunakan dalam keadaan darurat, seperti kebakaran, tindak kriminal, kecelakaan. Untuk cara menggunakannya hanya menekan gambar bertuliskan ‘SOS’ selama 3 detik, tak lama operator Panic Button akan menghubungi user. Terhitung Rabu (08/02/2017), setidaknya sudah 1871 warga Depok yang menjadi user Panic Button.
“Jumat lalu, pernah terjadi kebakaran di Kelapa Dua, dan ada user yang menggunakan aplikasi Panic Button meminta bantuan. Kami telpon, lalu kepolisian menghubungi pemadam kebakaran terdekat untuk menangani lebih lanjut,” papar Briptu Djarot.
Baik Halo Polisi maupun Panic Button mengambil teknologi Global Positioning System (GPS) atau sistem navigasi global. Dengan teknologi ini, posisi user dapat diketahui oleh operator maupun user yang lain, yang berguna untuk secara cepat memberikan pertolongan, apabila terjadi kejadian kebakaran, kecelakaan. Namun bagi user yang peduli akan privasinya tidak perlu khawatir, karena GPS hanya terlacak selama aplikasi dibuka.
“Sistem GPS tersebut untuk memudahkan kami dalam mengirim bantuan. Sehingga warga Depok tidak perlu khawatir, kami tidak akan ganggu privasi mereka,” katanya
Sejak layanan Halo Polisi dan Panic Button dibuka akhir 2016 lalu, Humas Polresta Depok telah menerima sekitar 8000 informasi. Melalui aplikasi itu, Briptu Arifin berharap masyarakat menjadi lebih dekat dengan Polresta Depok.
“Kami juga berharap, sistem tersebut dapat diterapkan nantinya di Polres luar Depok, lingkupnya nasional,” tutupnya.
Terpisah, Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops), Kompol Agus Widodo, mengungkapkan, layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat (NTPD) 112 Pemkot Depok dapat bersinergi dengan sistem Halo Polisi dan Panic Button Polresta Depok. Dirinya berharap nantinya layanan NTPD 112 dan Halo Polisi serta Panic Button dapat dimanfaatkan dalam skala nasional.
“NTPD 112 bersama Halo Polisi dan Panic Button bisa bekerja layaknya sistem mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri), cukup satu mesin melayani banyak kartu. Semoga ke depannya tidak hanya 10 kota besar saja yang terintegrasi dengan 112, seperti Surabaya, Bandung, Bogor dan Depok, tapi semua kota di Indonesia,” tutupnya.
Penulis: Fajar Nur Cahyo
Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita
Diskominfo
Bagikan post melalui :