wali kota saat diwawancara media._6

Wali Kota Depok, Mohammad Idris tengah diwawancara oleh media. (Foto : Bima/Diskominfo)

depok.go.id – Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemkot Depok mengajukan pelimpahan aset kepada pemerintah pusat. Dengan pelimpahan aset milik pusat ke daerah, diharapkan pengelolaannya bisa lebih maksimal, karena Pemkot Depok memiliki keleluasaan untuk mengelolanya.

“Contohnya adalah setu yang ada di Depok, kita memiliki 26 setu yang jika bisa kita maksimalkan tentunya kan berdampak positif bagi kami,” ujar Wali Kota Depok, Mohammad Idris, Senin (13/03/2017).

Dirinya mengatakan 26 setu yang ada di Depok akan dicoba untuk dijadikan sarana ekowisata, sehingga menarik masyarakat untuk berekreasi. Selain itu, pengelolaan juga akan ditingkatkan sehingga masyarakat tidak perlu lagi keluar Depok untuk berekreasi.

“Masyarakat banyak yang datang untuk mengunjungi potensi wisata lokal, pengelolaan juga akan kami tingkatkan dengan begitu PAD juga akan meningkat. Selain setu, ciliwung juga memiliki potensi ekowisata,” ujarnya.

Selain itu, untuk mencapai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30 persen, Mohammad Idris juga menyebut, ada beberapa aset pusat yang ada di wilayah kota Depok yang memiliki potensi untuk dilimpahkan. Di antaranya adalah lahan RRI di Cimanggis dan juga lahan Studio Alam di Cilodong yang bisa menunjang pencapaian RTH di kota yang memiliki tagline, Depok a Friendly City ini.

“Saat ini RTH baru 21 persen, maka diharapkan lahan-lahan ini bisa menjadi aset kota untuk dijadikan RTH,” tambahnya.

Dirinya mengatakan, pelimpahan aset juga dilakukan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
saat ini aset Pemkot Depok juga diminta oleh pemerintah pusat, seperti kantor-kantor lembaga vertikal. Tidak hanya itu, gedung sekolah SMA, yang dulu menjadi kewenangan Pemkot Depok, juga saat ini sudah di bawah wewenang Pemprov Jawa Barat.

“Kalau bisa kita ajukan barter aset dengan pusat, khususnya kita belum punya aset untuk anak muda berkreasi dan olahraga,” pungkasnya.

Penulis: Rysko

Editor: Dunih dan Yulia Shoim

Diskominfo

Bagikan post melalui :