inasp

AKSI : Kegiatan Komunitas INASP untuk kategori pemula saat melakukan latihan rutin. (Foto: Dian/Diskominfo)

depok.go.id- Indonesia Archery Schools Program (INASP) dibentuk warga Kelurahan Beji Timur, Kecamatan Beji, Defrizal Siregar pada Desember 2013. Mantan atlet panahan era 90-an tersebut ingin mempopulerkan panahan sehingga dapat dinikmati segala lapisan masyarakat. Untuk di Kota Depok, nama INASP sudah tidak asing lagi untuk pencinta olahraga panahan karena INASP satu-satunya komunitas yang bisa mencetak bibit-bibit atlet panahan Kota Depok.

Mantan pengurus Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota Depok ini memberanikan diri membentuk INASP, dengan menyiapkan dan menyediakan berbagai alat yang dibutuhkan untuk panahan. Dengan dana sendiri, Defrizal menyiapkan beberapa set busur dan anak panah. Mereka yang mau berlatih panahan ataupun yang hendak mencoba terlebih dahulu tinggal datang.

“Kalau tertarik (bergabung), nanti ada biaya operasional untuk merawat dan menyediakan peralatan panahan, tetapi nominalnya tidak besar,” tuturnya kepada depok.go.id, Kamis (13/04/2017).

Melihat respons warga Depok yang cukup baik, Defrizal pun mulai mencoba menyosialisasikan olahraga panahan ini ke berbagai sekolah di sekitar Depok untuk dijadikan kegiatan ekstrakurikuler.

“Walaupun banyak sekolah yang tertarik, saya tidak langsung meminta mereka untuk membeli peralatan. Tetap saya coba fasilitasi awalnya,” kata Defrizal.

Meski demikian, Defrizal  tak lupa menguraikan perihal manfaat panahan, baik kepada pihak sekolah maupun masyarakat yang ingin mencoba olahraga panahan. Menurutnya, ada empat manfaat dan nilai positif yang dapat diambil dari olahraga panahan yaitu ketenangan, keberanian saat menganalisis arah angin hingga melepaskan anak panah dan mengasah mental pemenang.

Defrizal menjelaskan, minat masyarakat terhadap panahan saat ini kian besar. Sehingga, dirinya terkendala dengan minimnya jumlah pelatih atau instruktur. Defrizal mengaku, sempat menghubungi rekannya yang juga mantan atlet untuk melatih. Namun, rupanya waktu mereka sangat terbatas.

Akhirnya, Defrizal menyiasati hal tersebut dengan membuat program Training for Trainer. Tujuan dari program ini adalah mencetak para pelatih olahraga panahan.

“Saya bikin modulnya, kemudian sebarkan infonya di Facebook. Ternyata banyak juga yang tertarik, mulai guru, anakanak muda, bahkan ada juga pengusaha,” ucapnya.

Sampai saat ini sudah 60 angkatan atau lebih dari 1.200 orang yang berpartisipasi dari berbagai daerah dan terutama di Kota Depok sendiri.

“Saat ini sudah ada sekitar 150 klub dan ekstrakurikuler (panahan) tersebar di 21 provinsi di Indonesia,” katanya.

Defrizal menambahkan, INASP memang cukup berperan dan berkontribusi dalam mencari bibit- bibit atlet. Hal itu terbukti dengan bergabungnya sejumlah anggota INASP ke Perpani. Ke depan, dirinya berharap pemerintah, melalui Perpani, dapat mendukung kegiatan INASP walaupun bentuk dukungan tersebut tidak mesti berbentuk dana atau materi.

“Dukungan moril sudah cukup agar INASP dapat semakin giat dalam mengembangkan dan menghasilkan bibitbibit atlet panahan masa depan,” pungkasnya.

Penulis: Dian Afrianti Kunto

Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita

Diskominfo

Bagikan post melalui :