depok.go.id – Imbauan mengenai lingkungan terus dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, terutama di musim kemarau ini, di mana ada beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan. Meskipun Depok sendiri menjadi kota tidak terlalu parah akan musim kemarau ini, karena kesadaran masyarakat juga sangat baik.

“Kekeringan sendiri sebenarnya dapat di atasi oleh diri sendiri, dengan menanam pohon, serta membuat resapan air, sehingga walau kemarau panjang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujar Kepala BLH Kota Depok, Wijayanto, belum lama ini.

Wijayanto menambahkan, budaya menghemat air juga perlu dilakukan, seperti menampung di ember air bekas mandi yang bisa digunakan untuk menyiram jalan yang berdebu, menggunakan air seperlunya, serta harus sadar bahwa saat ini sedang musim kemarau. Hal tersebut karena menurutnya hemat air tidak hanya saat kemarau, tetapi musim apa saja bisa dilakukan.

“Untuk kantor juga bisa menerapkan kepedulian lingkungan, contoh kecilnya adalah mematikan lampu, AC yang tidak terpakai, itu dapat hemat energi, dan menjadikan kantor berbudaya lingkungan,” paparnya.

Aksi bakar sampah juga sangat tidak disarankan, apalagi dilakukan di musim kemarau. Selain asap yang mengganggu pernapasan, juga berbahaya dapat menimbulkan kebakaran.

“BLH terus menyampaikan ke tiap kelurahan agar mengingatkan warganya tidak bakar sampah. Dampak bakar sampah, meningkatkan gas racun buangan, meningkatkan polutan pada polusi udara. Sampah lebih baik dipilah mulai dari rumah tangga yang organik dan non organik agar bisa didaur ulang,” terangnya.

Berbagai hal tersebut sudah sering dilakulan BLH Kota Depok dalam berbagai kesempatan melalui kegiatan sosialisasi. Hal inilah yang menjadi fokus BLH, tentu dengan tujuan masyarakat mengetahui dan mulai memberlakukan di rumah.

“Cara tersebut sangat sederhana, saya yakin masyarakat dapat melaksanakannya,” ujar, lelaki yang akrab disapa Wijay.

Wijay pun mengaku bangga akan tingkat kesadaran masyarakat Depok akan menjaga kebersihan yang dimulai dari rumah tangga sendiri, seperti membedakan tempat sampah organik dan non organik.

“Sudah ada peningkatan, tapi harus lebih ditingkatkan lagi. Tujuannya kan jelas, agar lingkungan dapat terjaga yang nantinya berimbas pada kehidupan manusia pula, ” ujarnya. (Rysko/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :