Sekretaris Dinkes Kesehatan Kota Depok, Ernawati. (Foto: Diskominfo)

depok.go.id- Guna mencegah jajanan di lingkungan sekolah terbebas dari bakteri Escherichia coli (E.coli), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mengimbau pihak sekolah untuk berperan aktif melakukan pemantauan dan membinaan melalui penyuluhan rutin seputar jajanan yang aman ke pedagang di lingkungan sekitar sekolah. Selain itu, perlu dilakukan pendataan pedagang dan berkoordinasi dengan RT-RW, dan pihak kelurahan.

“Orangtua kita juga minta agar dapat memantau anaknya dalam membeli jajanan, serta diharapkan dapat membawa bekal sendiri ke sekolah,” tutur Sekretaris Dinkes Kesehatan Kota Depok, Ernawati saat ditemui depok.go.id di ruang kerjanya, Jumat (14/12/18).

Menurut Erna, pihaknya juga rutin melakukan pengawasan serta pembinaan terhadap para pedagang jajanan di lingkungan sekitar sekolah. Semua itu, agar jajanan yang dijual bersih dan aman dikonsumsi.

“Kami secara rutin melakukan penyuluhan terkait keamanan pangan jajanan ke sekolah-sekolah dengan melibatkan tidak hanya pihak sekolah dan orangtua, tetapi juga pedagang jajanan. Dengan begitu, saat ini penggunaan bahan-bahan berbahaya pada makanan dan minuman sudah tidak kita temukan lagi,” jelasnya.

Dikatakannya, warga terutama para pedagang di sekitar sekolah diimbau menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Semua itu, agar jajanan yang dijajakan bagi anak sekolah bersih dan sehat.

“Kami terus mengimbau kepada para pedagang di sekitar lingkungan sekolah untuk memperhatikan kebersihan saat mengolah makanan atau minuman yang ingin dijual ke anak sekolah. Hal itu agar jajanan tersebut aman dikonsumsi,” tuturnya.

Erna menambahkan, pihaknya memang telah melakukan penelitian terhadap jajanan di 44 Sekolah Dasar (SD) yang dijadikan sebagai sampel. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan sebanyak 34 jenis makanan di lingkungan sekolah terkontaminasi bakteri E.coli. Namun, masih dalam kadar yang rendah sehingga tidak berbahaya.

“Jadi, jajanan yang terkontaminasi bakteri E.coli itu bukan dari bahan pembuatannya tetapi lebih kepada cara pengolahannya. Sebab, berdasarkan hasil pengujian yang kita lakukan, kadarnya rendah,” tandasnya.

Penulis : Jose Marques
Editor : Retno Yulianti
Diskominfo

Bagikan post melalui :