depok.go.id – Penduduk muda berusia di bawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomi masih  tergantung pada orangtua atau orang lain yang menanggungnya. Selain itu, penduduk berusia di atas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. 

Sementara itu, untuk penduduk usia 15 sampai 64 tahun merupakan penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk yang bergantung pada penduduk usia kerja atau yang dikenal dengan rasio ketergantungan (dependency ratio).

“Berdasarkan data yang dimiliki, saat ini Kota Depok memiliki angka rasio ketergantungan yang rendah, yakni jauh di bawah 50 persen,” ujar Walikota Depok, Nur Mahmudi Isma’il.

Wali kota alumni IPB itu juga mengatakan, Depok cukup bersyukur dengan capaian dependency ratio yang ada sekarang. Menurutnya, Depok saat ini memanfaatkan bonus demografi yakni penduduk dengan usia 15 sampai 64 tahun betul-betul diakomodasi dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga mengakibatkan dependency ratio di Kota Depok sangat rendah.

Sementara itu, mengenai strategi yang dilakukan Depok dalam menurunkan dependency ratio, lelaki yang memiliki 3 anak itu menuturkan bahwa Depok sangat mengoptimalkan industri kreatif, serta peningkatan peluang kerja. Hal tersebut terbukti saat ini kota dengan ikon belimbing dewa ini memiliki angka kemiskinan di kisaran 2,32 persen.

“Angka 2,32 persen ini sangat rendah bila dibandingkan dengan kabupaten atau kota lain sangat jauh sekali, seperti daerah Maluku dan Papua yang mencapai 24 persen, Bali dan Nusa Tenggara sekitar 18 persen, Sulawesi sekitar 19 persen, dan Kalimantan sebesar 6 persen,” pungkas Nur Mahmudi. (Nurul Hasanah/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :