Bazar Pasar Tani 4depok.go.id – Keberadaan Pasar Tani yang sudah berjalan selama 12 kali, cukup efektif memutus mata rantai distribusi pertanian. Dengan produk yang didatangkan dari tangan petani langsung, konsumen diuntungkan karena barang yang ditawarkan sangat terjangkau.

“Kegiatan Pasar Tani ini mampu memutus mata rantai distribusi pertanian. Sehingga harga yang ditawarkan pun langsung dari petaninya. Bahkan, barang yang dijual, masih bisa ditawar,” ujar  Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Depok, Ita Wilda di kegiatan Pasar Tani Balai Kota, Jumat (15/12/17).

Pihaknya menjelaskan, barang di Pasar Tani dijual lebih murah karena barangnya produk Depok asli. Hal ini berbeda dengan barang di pasar lain pada umumnya yang rata-rata dari luar Depok

“Harga hasil tani mahal, karena rantai distribusinya panjang, dengan adanya Pasar Tani ini, petani bisa langsung menjual dagangannya langsung ke pembeli. Dengan demikian, jelas harganya bisa ditekan dan bisa mereka jual lebih murah,” ucapnya.

Ita juga mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok telah memberikan fasilitas lapak gratis untuk Kontak Tani Nelayan andalan (KTNA) di kegiatan Pasar Tani. Namun demikian, Pemkot Depok juga ingin membantu pengunjung untuk mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasaran.

“Pemkot fasilitasi lapak gratis di Pasar Tani untuk KTNA , tapi Pemkot juga mau membantu warga yang berkunjung agar dapat harga yang lebih murah. Untuk itu, pedagang dari awal kita sudah imbau untuk tidak patok harga yang terlalu tinggi. Karena tujuan kita sama-sama membantu,” jelas Ita.

Sementara itu, anggota KTNA asal Sawangan Nurjali, juga menjual buah-buahan dengan harga yang cukup relatif murah. Bahkan, dirinya juga kerap memberi potongan harga, jika ada pembeli yang mencoba menawar.

“Harga di kami cukup terjangkau, misalnya saja cempedak kita jual Rp 20-70 ribu per buah, tergantung ukuran. Kalau ada yang mau borong, bisa kita kurangi lagi harganya,” pungkasnya.

Penulis: Vidyanita

Editor: Dunih dan Rita Nurlita

Diskominfo

Bagikan post melalui :