depok.go.id – Menjadi sopir ambulans baik untuk kondisi darurat maupun ambulans jenazah, tidak cukup hanya bermodalkan pandai menyetir. Segudang tantangan di lapangan, membuat sopir ambulans Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok harus siap bekerja dalam kondisi apapun.

Endang Pirtana (35 tahun), sopir ambulans RSUD Depok paham betul dengan risiko pekerjaannya. Mulai dari kendala kemacetan di jalan hingga dicegat preman kampung setelah mengantarkan jenazah ke Cigudek, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, pernah dialaminya dalam bekerja.

Endang menuturkan, saat mengantar jenazah ke Leuwiliyang butuh tenaga ekstra, karena jarak tempuh yang cukup jauh. Dia yang berangkat dari RSUD Depok sekitar pukul 10.00 WIB, baru sampai tujuan jam 18.00.

“Balik dari lokasi, saya dan teman dicegat oleh preman di sana, sempat takut kenapa-kenapa. Tetapi, alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dan bisa sampai RSUD Depok dengan selamat,” ujar Endang, di RSUD Depok, Rabu (16/05/2018).

Endang mengaku, dalam memberikan pelayanan pada pasien RSUD Depok, khususnya yang membawa pasien dari RSUD ke rumah sakit rujukan kerap kali diminta buru-buru oleh keluarga pasien untuk cepat sampai di lokasi. Beruntung dalam setiap menjalankan tugasnya, Endang tidak pernah mengalami kecelakaan sama sekali.

“Sudah biasa kalau membawa pasien disuruh buru-buru sama keluarga pasien, tetapi saya tidak masalah. Memang tugas saya seperti itu. Alhamdulillah, tidak pernah kena musibah di jalan,” pungkasnya.

Penulis: Nurul Hasanah
Editor: Dunih

Diskominfo

Bagikan post melalui :