klinik pratama

TUNJUKKAN: Kasie Rehabilitasi, Engkos Kosidin, mengatakan 68 pecandu di Depok telah dibantu melalui Klinik Pratama sejak 2016. (Foto: Fajar/Diskominfo)

depok.go.id- Sebanyak 68 pecandu narkoba telah dibantu penyembuhan di Klinik Pratama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok. Kepala Seksi Rehabilitasi BNN Kota Depok, Engkos Kosidin mengatakan, jumlah pasien pada tahun 2016 mencapai 57 orang dan pada tahun 2017 terhitung hingga 17 Februari 2017 mencapai 11 pasien.

“Untuk pasien compulsory mencapai 42 orang pada tahun 2016. Dengan rincian 13 pasiennya sudah mendapatkan layanan Tim Asesmen Terpadu (TAT) dan 29 pasien mendapatkan asesmen medis. Kemudian pada tahun 2017, ada sembilan pasien compulsory yang mendapat layanan TAT. Lalu, untuk pasien volunteer pada tahun 2016 mencapai 15 orang dan tahun 2017 hanya dua orang. Para pasien volunteer tersebut hanya mendapatkan asesmen medis,”jelasnya kepada depok.go.id, Jumat (17/02/2017).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pasien compulsory adalah pengguna yang tersangkut kasus hukum. Pasien tersebut juga hasil rekomendasi dari TAT dan asesmen media. Untuk TAT terdiri dari tim dokter dan tim hukum yang menyelidiki apakah pasien hanya korban penyalahgunaan narkoba atau termasuk pengedar. Sedangkan asesmen medis adalah tim dokter yang telah mendapat pelatihan tentang narkoba, untuk menyelidiki pasien secara medis, seperti jenis obat yang sering digunakan dan berapa lama penggunaannya. Selanjutnya, pasien volunteer adalah pengguna narkoba yang sukarela datang ke klinik, agar berhenti menjadi pecandu. Pasien itu hanya mendapat asesmen medis dan tidak akan diproses secara hukum.

“Sudah hebat dia mau berhenti jadi pecandu. Kita hargai dan tolong serta merahasiakan identitasnya, kita jamin,” tegasnya.

Engkos juga menuturkan, para pasie Klinik Pratama paling banyak menggunakan narkoba jenis sabu, setelah itu, diikuti oleh pengguna ganja dan narkotika jenis lainnya pada tahun 2016.

“Tahun lalu pengguna sabu sampai 39 orang. Lalu pengguna ganja 16 orang, dan benzodiazepine sebanyak dua orang,” ungkapnya.

Terakhir, Engkos berharap sebelum pecandu narkoba nantinya ditangkap dan diproses secara hukum, lebih baik bertaubat dan beranikan diri berobat ke Klinik Pratama.

“Kalau sudah diproses hukum, pengguna harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Lebih baik segera datang ke klinik sebelum terlambat,” tandasnya

BNN dan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus bersinergi memerangi narkoba. Berdirinya Klinik Pratama menjadi buah dari sinergitas antara BNN dengan Pemkot Depok untuk mewujudkan visi Depok yaitu kota yang unggul, nyaman dan religius.

 

Penulis: Fajar Nur Cahyo

Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita

 

Diskominfo

 

 

 

 

Bagikan post melalui :