CAS2

Akademisi Centre for Ageing (CAS) atau Pusat Kajian Kelanjutusiaan Universitas Indonesia (UI), Dini Agustin, saat menjadi pembicara dalam pelatihan duta lansia di Aula Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah, Dibaleka I Lantai 3, Kamis (20/04/2017). (Foto : Guntur/Diskominfo)

depok.go.id – Pemerintah Kota Depok beserta berbagai stakeholder terus berupaya untuk membentuk pribadi lansia yang produktif. Hal tersebut bertujuan untuk menjadikan lansia di Kota Depok berkualitas dan bermartabat.

Akademisi Centre for Ageing (CAS) atau Pusat Kajian Kelanjutusiaan Universitas Indonesia (UI), Dini Agustin mengatakan, untuk mewujudkan lansia yang bermartabat di Kota Depok, diperlukan pemenuhan tujuh dimensi lansia tangguh. Ketujuh dimensi tersebut yaitu dimensi spiritual, intelektual, emosional, sosial, fisik, vokasional serta lingkungan.

“Untuk membentuk dimensi spiritual, para lansia dapat memberikan contoh dan mengajak orang lain untuk melakukan ibadah bersama. Kemudian perlu juga saling menghargai antar generasi dan umat beragama. Serta harus senantiasa mensyukuri kehidupan mereka,” ujar Dini, belum lama ini.

Menurutnya, untuk mewujudkan dimensi intelektual dapat dilakukan dengan menanamkan minat baca, belajar bersama, serta berdisukusi mengenai topik aktual yang menarik. Selain itu, melakukan vitalisasi otak serta permainan stimulus otak.

“Tujuannya, agar para lansia dapat tetap terjaga kemampuan berfikir dan menganalisanya. Salah satunya melalui diskusi topik aktual tersebut,” tuturnya.

Kemudian, untuk dimensi emosional dapat diwujudkan dengan melakukan sejumlah kegiatan. Seperti kegiatan kesenian bersama sesuai minat, menjaga kebersamaan dalam keluarga, kebersamaan dengan teman seusia, serta saling bercerita mengenai berbagai permasalahan lansia.

“Kami berencana dengan Pemerintah Kota akan melanjutkan kegiatan saling curhat antar lansia dengan Wali Kota maupun Wakil Wali Kota Depok,” katanya.

Sedangkan, sambungnya, untuk dimensi sosial dapat dipenuhi dengan menjalin silaturahmi, interaksi melalui berbagai media. Selain itu juga mengajak generasi muda berinteraksi sosial di masyarakat, serta membangun sikap peduli kepada sesama.

“Sedangkan untuk dimensi fisik dapat diwujudkan dengan mengajarkan perilaku hidup sehat, memberikan contoh perilaku hidup sehat. Kemudian mengadakan kegiatan bersama terkait hidup sehat seperti olahraga bersama, serta memeriksakan kesehatan secara teratur,” jelasnya.

Untuk dimensi vokasional dapat diwujudkan dengan menabung sejak usia dini, menanamkan kewirausahaan sejak dini, membangun usaha bersama. Membangun pemberdayaan diri yang berguna untuk diri sendiri dan sesama, serta tetap belajar kepemimpinan dan organisasi.

“Untuk pemenuhan dimensi yang ketujuh, perlu mengajak generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan. Lalu diperlukan inklusi sosial dengan mengupayakan menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk menciptakan kualitas hidup yang ideal, serta pemanfaatan ilmu dan teknologi secara proposional,” tandasnya.

Penulis : Guntur Widyanto

Editor: Retno Yulianti dan Rita Nurlita

Diskominfo

Bagikan post melalui :