depok.go.id – Damona K. Poespawardaja dari Bidang Pengabdian pada Masyarakat Centre for Ageing Studies (CAS) Universitas Indonesia mengatakan bahwa tujuan Kota Depok untuk menjadi Kota Ramah Lansia turut dipengaruhi oleh kebijakan pemimpin daerah. Menurutnya, pemimpin daerah harus bersikap stimultan, dalam hal ini Kota Depok termasuk kota yang cepat dalam penyusunan aspirasi Perda tentang Lansia.

“Membutuhkan keberanian moral dari pemimpin daerah untuk membuat kebijakan yang mengatasnamakan kepentingan warga,” ujar Damona.

Damona mengatakan bahwa sikap pemimpin daerah akan menentukan kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan di sebuah kota. Khusus Kota Depok yang baru saja menjalani Pilkada, dirinya berharap estafet kepemimpinan dapat berjalan lancar tanpa meninggalkan program-program yang manfaatnya long lasting, seperti cita-cita Depok menjadi Kota Ramah Lansia.

Adapun sebagai kota yang memiliki warga Lansia setidaknya harus disediakan berbagai fasilitas yang mendukung. Hal ini agar hak para Lansia dapat dipenuhi, seperti fasilitas JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) yang dikhususkan untuk Lansia, selain itu juga pembangunan rumah Lansia yang ditujukan untuk menampung Lansia yang terlantar.

“JPO ramah Lansia di Depok memang baru ada satu, tapi bisa diikuti yang lain. Namun diharapkan jangan fokus di Margonda saja, karena Depok bukan itu saja,” jelasnya.

Pembuatan Perda juga jangan sampai menjadikan Kota Depok sebagai perpindahan Lansia dari luar Depok untuk menjadi hunian tetap, karena dalam hal ini rumah Lansia ditujukan untuk Lansia yang terlantar, misalnya mereka yang kedapatan mengemis di jalan.

“Lanjut usia bukan beban tapi aset negeri ini, semua dinas terkait bekerjasama mewujudkan Depok Kota Ramah Lansia,” tutupnya. (Rysko/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :