Di depan panggung kehormatan, peserta pawai dari Kota Depok tengah unjuk kebolehan menari dan pencak silat dalam pawai budaya (Bima/Diskominfo)

Ribuan warga Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) tumpah ruah memadati sebagian Jalan Yos Sudarso. Mereka rela menahan teriknya matahari hanya untuk melihat kreasi seni peserta Pawai Budaya Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi).

Dari 98 kota yang terlibat, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok ikut menyemarakkan pawai dengan menggabungkan kesenian Sunda dan Betawi.
“Kita membawa sekitar 100 peserta, 23 orang dari berbagai Perangkat Daerah (PD), sisanya warga Depok. Misalnya yang menari dari Sanggar Ayodyapala, kemudian ada pesilatnya dari (Lembaga Usaha Melestarikan Budaya Seni Kota (LUMBUK) Depok,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok, Yelis Rosdiana kepada depok.go.id, Rabu (25/07/2018).
Yelis mengatakan, Kota Depok memiliki berbagai macam kultur, di antaranya Sunda dan Betawi. Meski beragam, imbuhnya, masyarakat bisa hidup rukun berdampingan. Hal inilah, kata Yelis, yang ingin ditunjukkan dan disampaikan kepada masyarakat Tarakan, juga para anggota Apeksi lainnya.
Peserta pawai menempuh perjalanan sekitar 1,2 kilometer (km). Sepanjang jalan, para penonton mulai dari yang lanjut usia (lansia), para pemuda, hingga anak-anak dengan semangat melambaikan tangan dan bersorak-sorai. Suasana sempat heboh di beberapa titik, karena peserta pawai dari Depok berinisiatif membagi-bagikan sarung (pangsi) sebagai salah satu ikon pakaian Betawi.
Puncaknya, di depan panggung kehormatan, yang dihadiri tuan rumah, Wali Kota Tarakan, Sofian Raga beserta para anggota Apeksi, kontingen Depok menampilkan tarian khas Depok, Godek Ayu dan beberapa jurus dari seni bela diri pencak silat khas Betawi.
Ditemui di tempat pawai, seorang warga Tarakan, Linda Seno merasa senang dengan adanya pawai budaya ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bagus untuk mengenalkan keragaman budaya Nusantara.
“Saya sangat senang, karena ini baru pertama kali diadakan di Tarakan. Saya melihat keragaman Indonesia, meski disajikan lewat pawai,” tutupnya.
Penulis: Pipin Nurullah
Editor: Dunih
Bagikan post melalui :