depok.go.id – Pemberian tes membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) sebagai syarat penerimaan siswa baru tingkat Sekolah Dasar (SD) sebaiknya tidak dilakukan. Penerimaan siswa baru hanya mempertimbangkan dua hal yaitu usia dan kedekatan jarak sekolah dengan rumah siswa.

“Pada hakekatnya SD negeri dan swasata tidak berbeda dalam persyaratan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yakni mempertimbangkan umur dan jarak dari rumah ke sekolah calon siswa,” ujar Pelaksana Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Khaerudin, Senin (28/12/2015).

Selain tidak mempersyaratkan tes Calistung, Khaerudin juga mengungkapkan SD yang akan menerima siswa baru tidak boleh ada syarat tamat Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta menghindari tes psikologis kecuali bagi siswa yang menjadi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Meskipun demikian, apabila calon siswa sudah diterima di SD yang dipilih kemudian pihak SD mengadakan bimbingan Calistung dengan mengumpulkan para murid, hal tersebut diperbolehkan. Berdasarkan hasil tersebut sekolah dipersilahkan untuk mengelompokkan siswa yang nanti akan bersekolah.

Menurut Khaerudin, adanya sekolah yang memberikan tes Calistung menyebabkan orangtua ingin anaknya belajar Calistung ketika anak-anak mereka duduk di bangku TK. Bahkan sebagian dari mereka memberikan les Calistung dan matematika kepada anak-anak agar cepat pandai.

“Para orangtua akan merasa bangga dengan anaknya yang masih TK sudah bisa Calistung, dan anaknya akan cenderung tinggi hati atau timbul rasa kecewa saat tidak diterima. Padahal mereka belum cukup umur untuk merasakan hal tersebut,” tandas Khaerudin. (Nurul Hasanah/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :