depok.go.id – Akhir-akhir ini program sekolah rumah atau homeschooling kian marak dan menjadi salah satu alternatif orangtua dalam menyekolahkan anak-anaknya. Fenomena ini menjadi menarik, karena artinya ada sesuatu yang membuat sekolah rumah ini semakin diminati dibanding sekolah formal pada umumnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan TK/SD Kecamatan Sawangan, Sada, menjelaskan pada dasarnya sekolah formal dengan homeschooling tidak terlalu banyak perbedaan yang berarti. Hal ini disebabkan baik sekolah formal maupun homeschooling mempunyai kurikulum yang sama di semua jenjang pendidikan.

“Siswa homeschooling saat ini diharuskan memakai kurikulum formal karena nantinya mereka juga akan mengikuti ujian setara pendidikan formal pada umumnya,” ujar Sada, Senin, (29/06/2015).

Menurutnya, persamaan mendasar antara sekolah formal dan homeschooling adalah standar isi dan standar kompetensi lulusan. Sada menambahkan, jika ada siswa homeschooling yang tiba-tiba ingin masuk sekolah formal, hal tersebut diperbolehkan. Asalkan siswa tersebut sesuai dengan standar kompetensi jenjang pendidikannya. Ia mencontohkan, untuk anak SD harus sudah tahu nama-nama hari besar, pahlawan Indonesia, dan lain sebagainya.

Menurutnya, perbedaan yang menonjol dari kedua jenis pendidikan ini yaitu dari segi proses belajar. Adapun untuk sekolah formal masuk jam 07.00 pagi serta ada aturan yang harus dipatuhi. Sementara pada homeschooling, untuk waktu tentunya lebih fleksibel.

“Perbedaan lainnya adalah standar sarana prasana dan standar pendidik. Misalnya, gedung sekolah luasnya, jumlah bangkunya, serta ukuran bangkunya harus sekian. Nah, homeschooling bisa belajar di tempat tidur, alam bebas, ataupun pasar,” tutupnya. (Nurul Hasanah/Ed: Fahrudin Mualim – Diskominfo).

Bagikan post melalui :